Teori Scrum : 2 Prinsip Utama dan 3 Pilar

Scrum itu bisa dibilang sederhana tapi powerful karena berlandaskan pada dua prinsip utama: Empirisme dan Lean thinking (lean : ramping / kurus).

2 Prinsip Utama dalam Scrum

Empirisme

Empirisme berarti kita (1) belajar dari pengalaman dan (2) membuat keputusan berdasarkan apa yang kita lihat dan alami. Empirisme adalah lawan dari Dogmatisme yang “membuat keputusan berdasarkan dogma yang sudah dimiliki sebelumnya” . Empirisme juga berseberangan Rasionalisme yang berpendapat bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui akal budi dan penalaran logis, sering kali tanpa memerlukan pengalaman langsung.

Lean Thinking

Lean thinking (lean : ramping/ringkas) adalah fokus untuk memangkas hal-hal yang tidak (terlalu) perlu, jadi hanya yang penting-penting aja yang kita utamakan untuk dikerjakan. Dan Scrum menekankan kita untuk fokus pada hal tersebut.


Scrum menggabungkan pendekatan iteratif (mengulang-ulang) dan inkremental (tumbuh) untuk membuat prediksi kita lebih akurat dan juga mengontrol risiko. Iteratif dan bertumbuh itu, bayangkan seperti kita naik anak tangga, yang kita naiki satu tangga, lalu satu tangga lagi, dan seterusnya (iteratif). Dimana setiap anak tangga yang kita naiki, posisi kita akan makin “lebih tinggi” (incremental).

Scrum melibatkan orang-orang yang (secara kolektif) memiliki skill dan keahlian yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Mereka juga bisa saling berbagi atau menambah skill baru kalau diperlukan.

Di dalam Scrum, ada empat event utama yang bertujuan pada sisi “inspeksi” dan “adaptasi“, keempat event ini terjadi dalam lingkup Sprint. Event-event ini berjalan dengan baik karena menerapkan tiga pilar empirisme dalam Scrum : transparansi, inspeksi, dan adaptasi. Hmm… apa itu? mari kita bahas .

3 Pilar Scrum

Bagi yant tak paham kata pilar, pilar itu Tiang. Anda yang muslim tentu sering mendengar kalimat “sholat itu tiang agama”, jika tiang tak ada, maka robohlah rumah. Demikian juga dalam Scrum, tiga pilar ini adalah yang menjadi tiang “tegaknya” Scrum di organisasimu.

Apa yang dibahas di bagian ini memang akan terdengar filosofis, tapi memang ini penting. Agar Scrum tak sekedar menjadi “formalitas”, atau bahkan “hanya nama yang dipakai” untuk mengelola proyekmu. Bahasa sederhananya : “hanya memakai Scrum event, tapi tak memakai esensi dan ruh Scrum”.

transparansi, inspeksi, dan adaptasi.

Transparansi

Dalam Scrum, semua proses yang sedang berjalan dan hasil pekerjaan harus terlihat jelas bagi yang mengerjakan maupun yang akan menerima hasilnya. Keputusan penting di Scrum itu diambil dari kondisi yang jelas dari tiga artefak Scrum-nya. Artefak Scrum adalah item penting seperti Product Backlog, Sprint Backlog, dan Increment yang digunakan untuk merencanakan, tracking progress, dan menyelesaikan pekerjaan dalam Scrum. Nanti kita bahas secara khusus tentang Artefak Scrum di artikel tersendiri. Yups namanya memang Artefak, kayak benda sejarah aja ya? hehe.

Jika Artefak Scrum ini tidak transparan, maka kita berpotensi besar membuat keputusan yang salah. Sederhananya jika kaca mobilmu tidak transparan, bagaimana kita akan bisa menyetir sampai tujuan dengan baik?

Contoh 1: Misalnya dalam sebuah pengembangan software, backlog produk harus terbuka untuk semua anggota tim. Dengan begitu, mereka bisa melihat prioritas pekerjaan yang akan datang dan bisa merencanakan dengan lebih baik. Jika backlog ini tidak transparan, tim developer berpotensi salah tangkap prioritas dan malah mengerjakan hal yang tidak mendesak.

Contoh 2: Saat Sprint Review, transparansi ini juga penting agar stakeholder dapat melihat sejauh mana progress yang sudah dicapai. Jika tim menyembunyikan masalah atau progress yang tidak sesuai rencana, keputusan yang akan diambil Product Owner atau manajemen organisasi atas dapat melenceng dan akhirnya malah merugikan proyek.

Inspeksi

Artefak-artefak Scrum dan kemajuan menuju tujuan yang udah disepakati harus sering-sering diinspeksi dengan teliti. Ini penting agar kita bisa mendeteksi ada tidaknya perbedaan atau bahkan masalah. Untuk membantu inspeksi ini, Scrum sudah menyediakan ritme dalam bentuk lima Scrum Event-nya (nanti kita bahas sendiri terkait Scrum Event ini).

Contoh 1: Misalnya dalam event Daily Scrum, tim mengecek progress pekerjaan mereka terhadap Sprint Goal. Jika ada blocker / hambatan yang teridentifikasi, tim dapat langsung menyesuaikan pendekatannya untuk mengatasi hambatan tersebut, sebelum jadi masalah besar.

Contoh 2: Di akhir Sprint, saat Sprint Review, kita melakukan inspeksi terhadap peningkatan value yang sudah selesai. Atau istilahnya “fitur dan backlog mana yang sudah done”. Stakeholder yang ada dapat memberikan masukan soal pekerjaan yang sudah selesai tersebut. Jika ada fitur yang ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan user, tim dapat langsung membuat penyesuaian di Sprint berikutnya. Inilah pentingnya inspeksi.

Adaptasi

Adaptasi ini diperlukan ketika ada bagian dari proses yang menyimpang dari batasan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Adaptasi juga perlu dilakukan saat produk yang dihasilkan tidak sesuai. Ataupun hal-hal lain yang butuh menyesuaikan proses yang diterapkan atau (misal dalam konteks industri) bahan yang diproduksi. Penyesuaian ini harus segera dilakukan agar tidak makin jauh melenceng. Ibarat Anda sedang menyetir mobil dari kota A ke kota B. Di tengah jalan Anda menemukan bahwa Anda tadi salah mengambil belok, dan sekarang justru menuju kota C. Yang Anda lakukan? tentu adaptasi, bisa putar balik, atau cari jalan alternatif dari posisi sekarang yang bisa mengarah ke kota B.

Contoh 1: Saat Sprint Planning, tim melihat scope pekerjaan terlalu besar untuk diselesaikan dalam satu Sprint. Mereka harus langsung adaptasi dengan memecah pekerjaan jadi bagian-bagian yang lebih kecil dan manageable. Setelah memecah ini, mereka membagi mana bagian yang akan diselesaikan di Sprint ini, dan mana yang akan diselesaikan di Sprint berikutnya. Ini penting untuk menghindari gagal mencapai Sprint Goal.

Contoh 2: Setelah Retrospective, tim mungkin sadar jika metode komunikasi yang mereka pake selama Sprint tidak efektif. Untuk adaptasi, mereka memutuskan untuk ganti metode tersebut, misalnya dengan lebih sering check-in informal atau memakai alat kolaborasi yang lebih efektif.

Proses adaptasi ini tentu akan lebih susah jika anggota tim tidak diberdayakan atau tidak self manageable. Tim Scrum diharapkan untuk langsung adaptasi begitu mereka belajar sesuatu yang baru lewat inspeksi. Yups, kondisi “tergantung arahan pimpinan” memang sangat tidak diharapkan dalam Scrum, karena dapat menghambat diambilnya keputusan-keputusan penting, salah satunya soal Adaptasi ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *