Scrum Framework : Definisi dan Aturan Utama

Scrum adalah light framework (kerangka kerja ringan) yang membantu individu, tim, dan organisasi dalam menghasilkan value (nilai) melalui solusi adaptif untuk masalah yang kompleks

Oke, pelan-pelan, mari kita pahami satu persatu disini. Kata kuncinya ada 3 : (1) framework, (2) menghasilkan value, dan (3) masalah yang kompleks. 

Framework

Dalam konteks Scrum, framework atau kerangka kerja adalah struktur yang menyediakan pedoman dan aturan dasar yang perlu diikuti untuk mencapai tujuan tertentu. Kerangka kerja ini bukanlah serangkaian instruksi yang kaku, melainkan sebuah panduan yang fleksibel dan adaptif, yang memungkinkan tim untuk bekerja secara efektif dalam lingkungan yang kompleks dan berubah-ubah.

Jika Anda tidak terlalu paham apa itu framework, bisa bayangkan framework itu seperti SOP (Standard Operating Procedure) tapi tidak terlalu detail dan tidak kaku-kaku amat. Di dalam Scrum, framework ini memberikan kebebasan bagi tim untuk menyesuaikan cara kerja mereka sesuai dengan tantangan yang dihadapi.

Menghasilkan Value

Tujuan utama dari framework Scrum adalah untuk menghasilkan value. Value di sini bisa diartikan sebagai manfaat atau hasil yang berharga yang didapatkan dari proses kerja tim. Untuk memahami lebih lanjut mengenai value, Anda bisa cek artikel saya sebelumnya yang membahas konsep ini dalam konteks Agile. Cek disini.

Masalah yang Kompleks. 

Dalam konteks Scrum, istilah “masalah yang kompleks” merujuk pada situasi di mana tidak ada solusi yang jelas dan dapat diulang secara konsisten, dan di mana banyak faktor yang saling berinteraksi mempengaruhi hasil akhir. 

Ini berbeda dari “masalah yang rumit” (complicated), yang meskipun mungkin memerlukan keahlian dan pengetahuan khusus, solusinya dapat diidentifikasi dan diterapkan dengan pendekatan yang terstruktur.

Ingat kata kunci ini ya : masalah yang kompleks dan BUKAN COMPLICATED (RUMIT). 

Bang! Emangnya beda ya? 

Kita sebagai orang Indonesia kadang susah memahami bedanya antara complex (kompleks) dan complicated (rumit). 

Jadi mari kita bahas ini sebentar ya….

Perbedaan antara Complex (Kompleks) dan Complicated (Rumit)

Kompleks (Complex)

Masalah kompleks adalah masalah yang tidak dapat diprediksi secara pasti karena adanya interaksi dinamis dan hubungan antara banyak elemen yang berbeda. Dalam sistem kompleks, hasilnya tidak selalu dapat diprediksi berdasarkan elemen-elemen individualnya, dan perubahan kecil dapat memiliki dampak besar yang tidak terduga. Masalah kompleks memerlukan pendekatan eksperimental dan adaptif untuk menemukan solusi yang efektif.

Contoh Masalah Kompleks : Pengembangan Produk Baru
Mengembangkan produk baru yang harus memenuhi berbagai kebutuhan pengguna, regulasi, dan teknologi yang terus berkembang.
Kenapa Kompleks? : Produk baru sering kali menghadapi banyak variabel yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Misalnya, preferensi pengguna dapat berubah, teknologi baru dapat muncul, menteri berganti berimbas regulasi berganti, dan pasar yang berfluktuasi. Oleh karena itu, tim perlu bereksperimen, menerima umpan balik, dan beradaptasi secara terus-menerus untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Rumit (Complicated):

Masalah rumit adalah masalah yang, meskipun mungkin sulit atau memerlukan keahlian khusus, solusinya dapat ditemukan dengan menganalisis elemen-elemen yang ada secara sistematis. Masalah rumit dapat dipahami dan dipecahkan dengan menggunakan pengetahuan dan teknik yang ada, dan solusinya sering kali adalah hasil dari perhitungan dan desain yang cermat.

Contoh Masalah Rumit : Desain Mesin Mobil
Merancang mesin dengan spesifikasi teknis yang sangat detail, seperti mesin mobil dengan banyak komponen yang harus berfungsi bersama.
Kenapa Rumit: Meskipun desainnya sangat kompleks dan memerlukan keahlian teknis yang mendalam, solusinya dapat ditemukan dengan menganalisis komponen-komponen dan hubungan mereka secara sistematis. Setelah desainnya ditetapkan, mesin dapat diproduksi dan berfungsi sesuai spesifikasi.

Nah itu adalah definisi tentang scrum berdasarkan situs scrumguides.org , salah satu sumber referensi utama jika kita ngomongin Scrum. 

***

Aturan Utama Scrum

Secara singkat, Scrum memerlukan seorang Scrum Master untuk menciptakan lingkungan di mana:

  1. Seorang Product Owner menyusun pekerjaan untuk masalah kompleks dalam sebuah Product Backlog.
  2. Tim Scrum mengubah pilihan pekerjaan menjadi sebuah Increment yang bernilai selama Sprint.
  3. Tim Scrum dan para stakeholder memeriksa hasilnya dan melakukan penyesuaian untuk Sprint berikutnya.
  4. Ulangi proses tersebut.

Yaps, itu inti utama framework Scrum ini. Yes, 4 points itu aja. Tampaknya simple banget ya, namun justru dibalik “simple” inilah yang bikin Scrum jadi powerful.

Filosofi dari Scrum ini mirip kayak bilang : “Udah deh, cobain aja apa adanya dulu, ntar baru kamu putusin apakah filosofi, teori, dan strukturnya memang bisa membantumu memenuhi tujuanmu dan meng-generate value”. Yups : COBA AJA DULU!  

Hal menarik lainnya ialah : Scrum memang dirancang tidak lengkap, hanya mendefinisikan bagian-bagian yang penting saja untuk kita implementasi teori Scrum. Seolah mengatakan : “Detail implementasinya Kalian yang atur sendiri!!”. Bisa dikata, ketidaklengkapan ini memungkinkan pengguna Scrum untuk “adapt and adjust” Scrum sesuai dengan kadar pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki tim itu sendiri.

Tidak seperti metode lain yang sering memberi petunjuk sangat rinci, Scrum lebih fleksibel. Scrum memberi panduan dasar yang membantu tim berinteraksi dan bekerja sama dengan lebih baik. Di dalam framework ini, tim bisa menggunakan proses, teknik, dan metode yang sudah ada, atau malah menyederhanakannya jika dirasa tidak perlu lagi. Dengan Scrum, tim bisa melihat apakah cara kerja mereka saat ini benar-benar efektif. Ini membuka peluang untuk perbaikan yang bisa membuat tim bekerja lebih efisien dan menghasilkan value yang lebih besar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *