Adalah ‘umum’ di dunia kerja, kita menemukan role “PaLuGaDa” : aPA mau eLU, GuA aDA. Di ‘negeri asal’ saya ada istilah FULL Stack Developer, gabungan antara Backend dan Frontend. Kadang juga IT Support, servis printer, sambil bantu rekomendasiin HP buat temen kantor.
Tak jauh beda dengan dunia engineer, dunia Scrum Master, Product Manager, dan Project Manager tak jarang role di-“Fusion”kan. Fusion kadang antara dua atau ketiganya sekaligus. Bener sih di lowongan judulnya salah satu, tapi ketika didalamin, di-breakdown tak jarang job descnya isinya ketiganya. Malah kadang tambah role Tech Lead (jadi 4 role di fusion). Yeah..!
Maklumin saja, tradisi “rangkap jabatan” seperti itu kan memang sering dicontohkan pejabat negara kita #eh #ups.
Husnudzon kita, mungkin mampunya perusahaan yang ngehire seperti itu.
Ketika kami dulu memulai Scrum di Tim kami pun, tak jauh beda. Saya yang role aslinya backend, diminta untuk “nyambi” jadi Scrum Master, di tim yang saya pun juga ikut ngerjain jadi developernya juga. Jadi ya… dobel role. Setengah scrum master, ya setengah backend developer.
Efektif? Ya Jelas nggak dong….
Kalau dibilang puyeng, ya puyeng. Apalagi statusnya kami initiate Scrum dari nol (bahkan minus). Dari kami ‘blas’ nggak pengalaman soal Scrum.
Saya pun tahu Scrum cuman nama, untung sempat di kursus kilat sama mas Eristiar Syah Permana Tarigan, S.T, M.M
Untungnya Scrum Harus Terus berjalan,
Untungnya Sprint masih berputar.
Retro demi #retro memperbaiki bagaimana kami menerapkan Scrum.
Syukurlah akhirnya di Sprint ke sekian (saya lupa) ada mbak Syah Dia Putri yang “mendapat mandat” turun gunung jadi dedicated Scrum Master di tim kami. Sebenarnya nggak bisa dibilang “dedicated” amat, karena beliau sendiri di-assign jadi #Scrum Master di sekitar 4 tim Scrum berbeda waktu itu. Belum lagi role utama dia di Telkom Group sebagai BA.
Tapi… karena beliau sudah “handle” tim kami, saya pun bisa fokus kembali dengan bug-bug di #backend tercinta saya, Yes!
LESSON LEARNED
(1) Hal paling berat selama saya double roles adalah “Context Switching”. Karena sering dalam beberapa hari jadi palugada, lagi ngerjain koding backend eh kepikiran sprint, lagi nyiapin sprint malah kepikiran kodingan. Jujur #ContextSwitching itu beraaaat. kamu aja deh… jangan saya :p
(2) Jika terpaksa kalian harus hire role Palugada (fusion SM, PO, PM, dkk) make sure kalian memberi mereka space seluas-luasnya. Jangan mikir “Kan cuman gitu-gitu aja kerjanya” sambil nge-assign project dan product lainnya. Tanya load dulu ya…. mikirin produk itu berat, manage proyek itu berat, jadi SM … ah sudahlah…
(3) Punya dedicated #ScrumMaster, meskipun andaikata hanya lead Sprint Event doang, itu adalah anugerah banget loh. Baik-baikinlah orang kayak gini.
(4) Tak ada #sprint yang sempurna di awal-awal, kick off aja, lalu nikmatin sambil nyanyi fales “Untungnya Sprint masih berputar” gak apa-apa.
Kan ada retro…?
Malang, 15 Oktober 2024

