Memahami 12 Prinsip Agile: Pilar Penting untuk Kesuksesan Proyek
Sebelumnya kita telah membahas dasar Agile, yaitu Agile Manifesto. Kali ini, kita akan mendalami 12 prinsip Agile yang merupakan penjabaran lebih detail. Ada istilah namanya 12 prinsip Agile yang menjadi landasan dari pendekatan ini. Prinsip-prinsip ini bisa dibilang memperkuat keempat nilai Agile Manifesto dan memberi panduan yang lebih spesifik tentang bagaimana “menerapkannya”.
Menerjemahkan 12 prinsip Agile apa adanya dari Inggris ke Indonesia ini mungkin akan jadi aneh dan kaku. Jadi izinkan saya menuliskannya tetap dalam bahasa Inggris, sambil saya kasih gambarannya dalam bahasa Indonesia ya.
Kemudian untuk MEMPERMUDAH memahami apa saja nilai yang terkandung dalam 12 prinsip Agile ini, saya meniru apa yang dilakukan oleh Google saat mengajarkan 12 prinsip Agile ini di Google Certificate : Project Management dengan membaginya menjadi 4 tema utama :
- Value Delivery : Bagaimana mendeliver “value” kepada customer. Value ini bisa bayangkan fitur di software, atau sisi keunggulan lainnya yang sedang dikembangkan.
- Business Collaboration : Nggak ingin kan, sudah capek-capek bikin, ternyata ada miskom dengan customer, atau dengan anggota tim lain bahkan. Tema ini adalah tentang bagaimana kalian bisa saling “klik”.
- Team Dynamics and Culture : Produk yang hebat dimulai dari tim yang kuat. Bagaimana team dan kultur tim secara Agile untuk membantu bikin produk yang superb!
- Retrospectives and Continuous Learning : Kata retrospeksi ini mungkin jarang kita pakai, kita mungkin lebih seringnya pakai “intropeksi”, in-> evaluasi melihat ke dalam, sedangkan re-> evaluasi yang terus berulang. Nah, bisa bayangin seperti itu kurang lebih.
Note : Membagi 12 prinsip Agile ke dalam 4 tema utama ini sebenarnya bisa dibilang “nggak biasa”, mengingat tidak banyak praktisi Agile yang melakukannya. Disini saya sajikan (mengutip Google Project Management tadi ya) semata-mata agar memudahkan memahami apa yang hendak disampaikan oleh Agile ini kepada kita.
Tema Utama Pertama : Penciptaan Nilai
Fokus pada Hasil yang Cepat dan Bernilai
Prinsip Agile 1: Our highest priority is to satisfy the customer through early and continuous delivery of valuable software.
Kepuasan Pelanggan Melalui Pengiriman Cepat dan Berkelanjutan
Memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan sering mengirimkan hasil kerja yang “worthed”. Sambil terus memastikan produk yang dihasilkan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.
Contoh: Sebuah tim software developer merilis fitur-fitur baru setiap dua minggu sekali dalam siklus sprint. Setiap rilis ini membawa nilai tambah bagi pengguna,semisal dirilis ini menambah fitur pencarian yang makin keren,atau bikin UI/UX untuk user yang lebih baik. Dengan seringnya rilis ini, pelanggan terus merasa bahwa produk yang mereka gunakan semakin relevan dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka juga bisa memberikan feedback lebih cepat untuk pengembangan fitur yang lebih baik kedepannya.
Prinsip 2: Welcome changing requirements, even late in development. Agile processes harness change for the customer’s competitive advantage.
Sambut Perubahan Persyaratan, Bahkan di Akhir Pengembangan
Menyambut perubahan, bahkan di tahap akhir pengembangan, untuk memastikan produk selalu relevan dengan kebutuhan pelanggan dan kondisi pasar.
Contoh: Proyek sudah mau selesai nih, tapi seorang pelanggan meminta perubahan pada fitur utama aplikasi. Alih-alih menolak karena keterbatasan waktu, tim Agile dengan cepat mengevaluasi permintaan tersebut dan menyesuaikan backlog mereka untuk memastikan perubahan tersebut bisa diakomodasi sebelum rilis final. Bukan berarti change ini tidak ada cost ya, cost bisa jadi tetap ada, semisal deadline diundur, atau charging cost yang dinaikkan (semisal karena butuh tim lembur) ATAU BAHKAN Cost ini berbentuk Mengorbankan FITUR LAIN yang sebenarnya akan didevelop. Cost might happen. Tapi kata kuncinya adalah tetap “welcome”. Karena toh buat apa rilis jika ternyata pas rilis, eh nggak relevan sama pasar. Kan…?
Prinsip 3: Deliver working software frequently, from a couple of weeks to a couple of months, with a preference to the shorter timescale.
Pengiriman Produk yang Berfungsi Secara Berkala
Mengirimkan hasil kerja secara berkala dalam rentang waktu yang singkat, memungkinkan feedback yang cepat dan penyesuaian yang diperlukan.
Contoh: Tim yang mengembangkan situs e-commerce membagi pekerjaan mereka menjadi beberapa bagian kecil, seperti pengembangan fitur cart, pembayaran, dan pelacakan pengiriman. Setiap bagian ini diselesaikan dan diintegrasikan ke dalam sistem setiap dua minggu, memastikan bahwa sistem dapat digunakan dan diuji oleh pengguna secara terus-menerus.Tidak menunggu “semua jadi” baru dicoba.
Prinsip 4: Business people and developers must work together daily throughout the project.
Kerjasama yang Dekat Antara Bisnis dan Pengembang
Kolaborasi erat antara pemangku kepentingan bisnis dan tim pengembangan sepanjang proyek untuk memastikan pemahaman yang jelas dan tujuan yang selaras.
Contoh: Tim developer dan tim bisnis bekerja bersama dalam satu workspace (semisal minimal 1 WA group lah) untuk ngebahas prioritas fitur yang paling penting untuk produk baru. Dengan kolaborasi ini, developer dapat memahami kebutuhan bisnis dengan lebih baik dan sebaliknya juga. Developer juga dapat ngasih feedback dari tim bisnis sesegera mungkin (semisal jika ada UI/UX yang kurang enak, ada bug tertentu, dlsb).
Prinsip 5: Build projects around motivated individuals. Give them the environment and support they need, and trust them to get the job done.
Proyek Dibangun di Atas Individu yang Termotivasi
Mengandalkan tim yang termotivasi dan memberi mereka lingkungan yang mendukung, serta kepercayaan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.Yeah, di dunia Agile kita anti sama yang kultur yang memungkinkan tumbuhnya individu dan tim yang toxic-toxic. Dear para bos yang baca artikel ini : ini juga buat kamu ya… Banyak Agile yang “gagal” karena para pimpinan tidak mampu membangun tim dengan individu yang termotivasi.
Contoh: Seorang manajer proyek mendukung penuh timnya dengan menyediakan semua alat, resource, dan KULTUR yang diperlukan. Si manajer proyek juga mempercayai mereka untuk membuat keputusan teknis sendiri. Hasilnya, tim merasa lebih diberdayakan dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan mereka. Ini contoh loh ya.
Tema Utama kedua : Kolaborasi Bisnis
Kata kunci : membangun Kerjasama yang Erat dengan Stakeholder
Prinsip 6: The most efficient and effective method of conveying information to and within a development team is face-to-face conversation.
Percakapan Tatap Muka sebagai Metode Komunikasi Terbaik
Mempromosikan komunikasi langsung dan tatap muka sebagai metode paling efektif untuk menyampaikan informasi ke dalam tim. Dear GenZ, dan tim introvert (saya disini), jangan malu buat telepon-telepon ya. Kadang di awal memang nggak nyaman sih, tapi ya belajar bareng aja. Seringkali telepon 10 menit itu lebih cepat “klop” dan “klik” daripada bolak balik bales ngechat dan ngemail seharian.
Contoh: Dalam pengembangan sebuah Apps Android, tim developer secara rutin mengadakan pertemuan harian (daily stand-up) dengan stakeholder melalui video call. Ini memungkinkan semua orang mendapatkan pembaruan langsung dan menyelesaikan masalah dengan cepat tanpa harus menunggu email atau dokumen tertulis.
Prinsip 7: Working software is the primary measure of progress.
Software yang Berfungsi Sebagai Ukuran Kemajuan Utama
Mengukur kemajuan proyek berdasarkan hasil kerja yang nyata, bukan hanya dokumentasi atau laporan.
Contoh: Daripada capek-capek bikin laporan tertulis atau slide untuk mengukur kemajuan, sebuah startup menggunakan demo produk mingguan di mana tim nunjukin fitur yang sudah selesai kepada para stakeholder. “Pak, minggu ini kita nambahin fitur ABCD ke apps kita yang ini”. Ini memberikan bukti langsung tentang kemajuan proyek dan memungkinkan umpan balik cepat dari pengguna. Eh tapi bukan berarti report tertulis nggak penting ya, hanya saja, prioritaskan “tunjukin” daripada ngirim report ini.
Prinsip 8: Agile processes promote sustainable development. The sponsors, developers, and users should be able to maintain a constant pace indefinitely.
Menjaga Kecepatan Pengembangan yang Berkelanjutan
Memastikan bahwa tim dapat bekerja dengan ritme yang berkelanjutan dan stabil, yang memungkinkan produktivitas jangka panjang tanpa kelelahan (burn out).
Contoh: Sebuah perusahaan teknologi besar menetapkan ritme sprint dua minggu yang konsisten dan berkelanjutan untuk pengembangan semua produk mereka. Dengan menghindari puncak kerja berlebih (crunch) sebelum rilis besar, tim dapat mempertahankan produktivitas dan kualitas kerja dalam jangka panjang. Kayak orang maraton tuh, ritme nya konstan.
Tema Utama Ketiga : Budaya Tim
Membangun Tim yang Inklusif dan Berdaya
Prinsip 9: Continuous attention to technical excellence and good design enhances agility.
Perhatian pada Keunggulan Teknis dan Desain yang Baik
Mendorong tim untuk terus meningkatkan keunggulan teknis dan desain agar produk yang dihasilkan berkualitas tinggi. Yeah, keunggulan teknis matter. Upgrade skill, quality oriented minded, dlsb.
Contoh: Dalam pengembangan software, tim memutuskan untuk mulai invest waktu dalam menulis kode yang clean dan mudah dipahami oleh orang lain.Kalau terkait coding, contoh assessment security programnya, bikin comment-comment di codenya, checking code smell, implement unit testing, dlsb. Tim developer juga menerapkan desain modular, yang memudahkan penambahan fitur di masa depan tanpa merusak kode yang ada.
Prinsip 10: Simplicity–the art of maximizing the amount of work not done–is essential.
Kesederhanaan – Seni Memaksimalkan Jumlah Pekerjaan yang Tidak Dikerjakan
Mengutamakan kesederhanaan dalam pengembangan produk, dengan fokus pada mengerjakan fitur yang benar-benar penting dan menghindari kompleksitas yang tidak perlu.
Contoh: Sebuah tim developer apps memutuskan untuk menunda pembuatan fitur-fitur “kosmetik” yang tidak esensial, seperti fancy icon, integrasi media sosial. Mereka sepakat menunda itu hingga produk inti sudah berjalan dengan baik. Mereka fokus pada pembuatan aplikasi yang fungsional dan dapat digunakan terlebih dahulu sebelum menambahkan fitur-fitur tambahan.
Prinsip 11: The best architectures, requirements, and designs emerge from self-organizing teams.
Tim yang Terorganisir Sendiri untuk Meningkatkan Efektivitas
Memberdayakan tim untuk mengorganisir diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka menemukan solusi terbaik untuk masalah yang dihadapi.
Contoh: Tim diberi kebebasan untuk memilih metode kerja mereka sendiri, misal termasuk alat manajemen proyek yang ingin mereka gunakan, waktu dan lokasi untuk daily, dlsb. Mereka memutuskan untuk menggunakan kanban board dan mendesain ulang alur kerja mereka sendiri agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi tim.
Tema Utama keempat : Retrospektif
Pembelajaran Berkelanjutan untuk Perbaikan Terus-Menerus
Prinsip 12: At regular intervals, the team reflects on how to become more effective, then tunes and adjusts its behavior accordingly.
Refleksi dan Penyesuaian Berkala untuk Efektivitas yang Lebih Baik
Secara berkala merefleksikan cara kerja tim dan membuat penyesuaian yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proyek.
Contoh: Setelah setiap sprint, tim mengadakan sesi retrospektif di mana mereka mendiskusikan apa yang berjalan dengan baik dan apa yang bisa diperbaiki. Sebagai hasil dari retrospektif ini, mereka memutuskan untuk menambah waktu persiapan sebelum setiap sprint untuk memastikan semua tugas siap dikerjakan, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas sprint berikutnya.
Penutup
12 prinsip Agile ini adalah fondasi dari pendekatan Agile yang membantu tim dalam menciptakan nilai, berkolaborasi dengan pemangku kepentingan, membangun budaya tim yang kuat, dan terus belajar untuk meningkatkan diri. Prinsip-prinsip ini tidak hanya relevan dalam pengembangan software, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai jenis proyek dan industri.

