Kami Sebelum Scrum : Kenapa Kami Kemudian Memakai Scrum

Faktor utama yang mendasari perubahan bahwa tim akan memakai scrum adalah : Big Boss! 

Iya, nggak muluk-muluk, ini adalah alasan paling realistis dan paling powerful. 

Singkat cerita terdapat perubahan manajemen di sisi “agak induk” perusahaan tentang status kelola produk yang dihandle squad kami. Hal ini berimbas pada tim kami yang seluruhnya dipindahkan dan digabungkan ke sebuah “manajemen baru”. Di perusahaan manajemen baru ini istilahnya “Tribe”. Mulai dari level “CTO”, “CEO”, “CFO” produk kami, hingga kami di level staff terbawah ini, semuanya di pindah dan di reposisi menjadi sub di dalam “Tribe” tersebut.

Tribe ini sebenarnya istilah model pengelolaan SDM di tempat kami ya, mengacu pada bentuk Spotify Model. Jadi, di perusahaan induk kami ini ada divisi bernama Tribe atau Suku, yang berfokus di sisi bisnis. Istilah kerennya, “drive value”, intinya : cari uang sebanyak-banyaknya. Ini untuk membedakan dengan divisi lain yang namanya Chapter dimana disini adalah sisi “penyediaan resource” yang dibutuhkan Tribe untuk bisa jalan. Pak Big Boss ini adalah atasan tertinggi kami di Tribe unit bisnis kami. Sebut saja nama beliau Pak Yanto (bukan nama sebenarnya ya)

Pak Yanto ini, adalah orang yang bisa dibilang energik, semangat dan ambisius. Beliau tahu tentang produk tim kami, dan sadar paham betul akan peluangnya. Tapi beliau yang juga memiliki standar tinggi, menyadari bahwa produk kami masih kurang layak untuk “dijual”. Baik dari sisi tampilan, ataupun teknologi dan lain sebagainya. Terutama dari sisi “fitur-fitur yang beliau inginkan harus ada”. 

Dan Pak Yanto juga (untungnya) sadar tentang bagaimana tidak efisiennya tim kami berjalan selama ini. Sifat energiknya membuat beliau jadi “gemess” dengan kami semua. Saking gemesnya, sampai-sampai beliau membuat Group WA untuk setiap sub produk yang ada. Yups, ada group Web, group Android, dan ada lagi satu group yang saya lupa. Di setiap group tersebut beliau join dan aktif berdiskusi. Memotivasi agar kami push push dan push. 

Beliau yang tahu bahwa saya ditunjuk CTO untuk jadi Scrum Master pun jadinya tak jarang telpon ke saya saat ada hal-hal yang dia kurang puas dan ingin segera diperbaiki. 

Tapi padahal Scrum belum jalan! 

Padahal Saya baru beberapa hari ditunjuk jadi Scrum Master, Aaargh!

Dan kini pak Yanto ada di setiap group tim Developer, memberikan arahan dan juga request agar produk bisa ini itu. Dan saya yang jadi “tujuan sambat” oleh beliau. , Aaargh!

Sementara kami tim developer sebelumnya juga sudah ada task-task dari CTO kami, dan juga task-task lainnya (semisal ada customer complaint yang perlu di handle di kami). 

Otomatis saya dan teman-teman pun jadi bingung dengan apa yang mau dikerjakan, bagaimana prioritasnya, mana dulu, dan juga terpenting “mau dibawa kemana produk kita ini”., Aaargh!

Jujur saya akui, itu adalah masa-masa paling confused.

Scrum belum jalan, tapi pak Yanto sudah ingin bermacam-macam.

Changes Happen, and some changes are real fast!

And Fast problem need a “fast solution”.

Saya yakin, beberapa perubahan memang ada yang dari bawah, tapi tak sedikit, motivasi memakai Scrum adalah adanya “Pak Yanto” di tempatmu.

Atau jangan-jangan Anda lah Pak Yanto nya?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *