Apa itu Agile? Pengertian, Sejarah, dan Prinsip-Prinsipnya

Jadi Apakah Agile itu?

Agile adalah mindset dalam manajemen proyek yang menitik beratkan pada agility (kelincahan). Mindset ini menekankan pentingnya fleksibilitas, kolaborasi, dan respons cepat terhadap perubahan.

Sekali lagi, Agile adalah mindset, bukan hanya sekadar metodologi. Beberapa orang mungkin menyebut Agile sebagai metodologi atau metode, tetapi saya lebih suka menganggapnya sebagai mindset karena Agile mencakup lebih dari sekadar proses dan alat. Agile adalah cara berpikir dan pendekatan yang memungkinkan tim untuk beradaptasi dengan perubahan dan terus meningkatkan proses mereka. Framework seperti Scrum, Kanban, dan XP adalah implementasi dari mindset Agile ini.


Itu jika Agile secara definisi. 


Namun wajib dipahami bahwa Agile ini secara sejarah sebenarnya tak ubahnya Pancasila di Indonesia : kesepakatan. Jika Pancasila adalah kesepakatan untuk menyatukan rakyat Indonesia yang beragam, Agile pun pada dasarnya ia adalah kesepakatan untuk menyatakan “cara mengembangkan software” yang tak seperti sebelum-sebelumnya. 

Kesepakatan tentang kesamaan pandangan, ini dikenal dengan istilah manifesto

Agile manifesto 

Istilah Agile dalam konteks manajemen proyek Agile tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya Agile Manifesto. Agile Manifesto lahir pada Februari 2001, ketika 17 orang praktisi software development berkumpul di sebuah resor ski di Utah, Amerika Serikat. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan memiliki pengalaman terkait berbagai metode pengembangan software.

Dalam pertemuan tersebut mereka semua sepakat bahwa metode tradisional yang ada saat itu terlalu kaku dan tidak mampu menanggapi perubahan yang cepat. Mereka menginginkan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif.

Hasil dari pertemuan tersebut adalah Agile Manifesto, sebuah dokumen yang merangkum prinsip-prinsip utama yang menjadi dasar pendekatan Agile.

Again, perlu di garis bawahi ya, bahwa agile adalah sebuah kesepakatan bersama di antara mereka yang hadir di tempat tersebut. Karena mereka yang merumuskan pun latar belakangnya bermacam-macam, pun masing-masing juga sudah memakai metode yang bermacam-macam. Tetapi saat itu mereka semua bersepakat tentang “kesamaan”, yang menjadi common ground untuk merumuskan prinsip dasar dari Agile. Layaknya pancasila dimana saat itu pendiri bangsa yang bermacam-macam latar belakangnya (akhirnya) bersepakat tentang Piagam Jakarta yang kemudian setelah proklamasi menjadi Pancasila yang kita kenal sekarang.

Isinya Agile Manifesto, saya ambilkan dari webnya langsung ya, https://agilemanifesto.org 

Seperti yang bisa Anda baca dari Agile Manifesto diatas, poin utama dari Agile adalah menitikberatkan sesuatu dibandingkan sesuatu lainnya. 

Penjelasan Agile Manifesto

Manifesto 1 : Individu dan Interaksi  di atas proses dan alat.

Pada intinya prinsip ini menekankan orang-orang untuk “saling bicara” dibandingkan sekedar memakai alat dan proses untuk mewujudkan sesuatu. Atau dalam konteks lain : Lebih penting bagi orang-orang untuk bekerja sama dengan baik daripada hanya mengikuti aturan dan menggunakan alat yang canggih. 

Contohnya: mungkin kalian pernah komunikasi via email dengan tim atau divisi lain, yang berakibat email tersebut “beranak pinak bercucu cicit”, alias bolak balik dst…? (tool), padahal bisa jadi jika Anda meluangkan mungkin sekitar 15-30 menit untuk ngobrol langsung, baik secara offline atau online, apa yang kalian “pingpong” kan di email tadi bisa selesai.  

Ini bukan berarti proses dan tools, ataupun aturan, tidak penting, tetap penting, hanya saja, proses dan tools ini haruslah mendukung individu dalam berinteraksi. 

 Manifesto 2 : Software yang berfungsi di atas dokumentasi yang lengkap. 

Jika Anda pernah tahu metode waterfall, tentu akan paham bahwa “dokumentasi adalah (nyaris) segalanya”, dan “software jadi” justru ada di ujung akhir perjalanan. Agile bisa dibilang kebalikannya, dia memprioritaskan pada software yang berfungsi daripada dokumentasi yang super sempurna.  

Konsep disini adalah Anda dan tim harus benar-benar memprioritaskan waktu untuk ngerjain agar software berfungsi, daripada habis waktunya untuk nego, debat, dan utak atik dokumentasi. 

Eh tapi jni juga bukan berarti Anda mengabaikan dokumentasi sama sekali, bukan begitu ya konsepnya.  Tapi dokumentasi ini adalah dokumentasi yang mendukung untuk fungsionalitas softwarenya. Ibarat Anda menulis dokumentasi, maka Anda akan lebih prioritas pada dokumentasi “cara memakai software” daripada “cara membuat software” ataupun dokumentasi teknis lainnya. 

Manifesto 3 : Kolaborasi dengan pelanggan  di atas Negosiasi Kontrak

Lebih penting kolaborasi / bekerja sama dengan orang yang akan menggunakan produkmu (pelanggan) daripada hanya membuat kontrak tertulis antara kamu dan dia. Kolaborasi membantu memahami kebutuhan pelanggan secara lebih baik. 

Ini juga bukan berarti kontrak tidak penting, oh itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kalian bekerja sama untuk mewujudkan produk yang benar-benar diinginkan oleh customer. 

Manifesto 4 : Menanggapi perubahan di atas mengikuti rencana

Lebih penting bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan situasi baru daripada tetap berpegang pada rencana awal yang sudah dibuat.

Banyak perusahaan besar di dunia modern ini yang berhasil untuk “adaptasi” dengan perubahan pasar dan teknologi. Ambil salah satu contohnya Amazon. Bermula dari “sekedar” toko buku online, berubah menjadi toko online “serba ada” besar, dan bahkan kini berubah menjadi penyedia teknologi Cloud. Wow! Andai mereka hanya “stick to the plan” menjadi penguasa toko buku, mungkin tidak akan dikenal namanya AWS Cloud. 

Sekali lagi bukan berarti rencana tidak penting ya, rencana memang penting. Tapi alih-alih “kaku” harus mengikuti rencana, padahal ada “disrupsi” yang terjadi, maka di Agile lebih baik response terhadap perubahan. 

*** 

Anda bisa membayangkan Agile Manifesto ini seperti halnya rukun Islam atau rukun iman. Suatu organisasi atau proyek dapat disebut Agile apabila memenuhi “4 rukun Agile” dalam Agile manifesto tersebut. 

Bermula dari Dunia IT namun diterapkan lebih luas lagi.

Yups, Agile memang bermula dari dunia Software Development, karena memang mereka yang “ngopi bareng” dan merumuskan Agile ini adalah orang-orang dari latar belakang IT. Tapi hari ini kita mendengar istilah “Agile” dipakai di banyak tempat. Hal tersebut sah-sah saja, selama memang tidak melenceng dari “rukun Agile” diatas.  

Ohya, Anda yang bukan dari dunia software, tentu masih dapat menerapkan culture Agile di apapun proyek Anda. Anda bisa mencoba mengganti kata “software” dalam Agile manifesto diatas dengan kata yang sesuai dengan konteksmu. 

Agile principles

Agile manifesto ini kemudian di “emphasize” atau diperkuat menjadi 12 Prinsip Agile. Dua belas prinsip Agile ini menjabarkan tentang mengapa, bagaimana, dan apa tentang proses dan perencanaan di manajemen proyek secara Agile.  

Pada artikel berikutnya, kita akan membahas 12 Prinsip Agile secara lebih mendalam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *