Memahami Agile : Kenapa Perlu Agile? Belajar dari Fortune 500

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah cerita, tentang sebuah “Daftar” yang terkenal bernama Fortune 500. 

Fortune 500 sendiri adalah daftar tahunan yang disusun oleh majalah Fortune, berisi 500 perusahaan terbesar di Amerika Serikat berdasarkan pendapatan tahunan. Daftar ini sering dianggap sebagai barometer ekonomi dan prestasi perusahaan. Untuk bisa masuk dalam daftar ini, perusahaan harus memiliki pendapatan tahunan yang tinggi, dan rangkingnya disusun berdasarkan total pendapatan. 

Ini contoh daftar Fortune 500 untuk perusahaan di Amerika Serikat tahun 2022. Bisa cek sendiri bagaimana “pendapatan” nomor 1, 2, dan 3 nya dibandingkan APBN negara kita ini. 

Singkat kata, kalau perusahaan kamu masuk “crazy rich”, bakalan masuk daftar Fortune 500 ini. 

Nah ada fakta menarik dari daftar ini. Sejak tahun 2000, sekitar 52% dari perusahaan yang dulu ada di daftar tersebut ternyata kini sudah bangkrut, diakuisisi, atau “menghilang”. 

Padahal mereka perusahaan yang sebelumnya dengan pendapatan tertinggi, super rich, bahkan crazy rich. 

Padahal, perusahaan-perusahaan ini tidak kekurangan teknologi canggih, mereka tentu punya tuh, komputer terbaru, server termutakhir, ataupun alat-alat dan bahan terkeren di zamannya. Mereka bisa beli kok. 

Salah satu “pandangan” kenapa mereka tak lagi ada di daftar Fortune 500, ternyata bukan di sisi teknologi. Namun mereka kekurangan inovasi. Inovasi untuk apa? 

Inovasi untuk menghadapi digital disruption.

Di dunia yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, atau sering disebut VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous), perusahaan dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif. 

Ambil contoh Kodak, yang dulu menjadi raksasa di industri fotografi. Mereka gagal beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan akhirnya bangkrut pada tahun 2012. Lain halnya dengan Blockbuster, yang di masa jayanya menjadi penyewaan video terbesar di dunia, namun harus gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan layanan streaming seperti Netflix. Kedua contoh ini menunjukkan betapa pentingnya inovasi dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Di sinilah Agile masuk sebagai alternatif solusi. Agile bukan hanya tentang cara kerja yang cepat atau metode pengembangan perangkat lunak, tetapi lebih kepada cara berpikir yang fleksibel dan adaptif. Mindset Agile memungkinkan manajer proyek dan tim untuk lebih responsif terhadap perubahan, terus berinovasi, dan berfokus pada memberikan nilai kepada pelanggan. Dengan mengadopsi mindset Agile, perusahaan dapat lebih siap menghadapi tantangan di dunia VUCA.

Misalnya, Amazon, yang awalnya hanya toko buku online, berhasil bertransformasi menjadi raksasa e-commerce dan bahkan layanan cloud computing. Mereka terus berinovasi dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar. Dengan mindset Agile, Amazon mampu mengidentifikasi peluang baru dan merespons kebutuhan pelanggan dengan lebih baik. Siapa sangka Amazon si toko buku online itu kini menjadi salah satu Cloud Provider besar di dunia? 

Fortune 500 terbaru menunjukkan bahwa perusahaan yang mampu bertahan dan terus berkembang adalah mereka yang mengadopsi inovasi dan fleksibilitas. Mindset Agile membantu perusahaan untuk lebih cepat beradaptasi, terus belajar, dan tidak takut untuk mencoba hal baru. Jadi, bagi para manajer proyek, mengembangkan mindset Agile adalah kunci untuk bertahan dan sukses di dunia yang terus berubah ini.

Jadi, sudah Agile kah mindset perusahaanmu? Eh mindsetmu? 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *